Inovasi Bagi Bumi

Lomba ‘Kompetisi WEB MuDA & Pertamina’ merupakan inovasi luar biasa di era digilitasi sekarang dalam upaya untuk menghijaukan bumi. Selain www.mudaers.com dan www.sobatbumi.com, web yang berisi tentang kepedulian bumi seharusnya menjamur di peselancaran dunia maya sebanyak mungkin. Maka itu, saya juga ikut andil dalam www.sodarabumi.wordpress.com. Karena Bagiku…

“Menjaga bumi berarti menjaga diri. Pun demikian, merusak bumi sama artinya dengan merusak diri”.

Ini sejalan dengan artikel bumi dan telur. Pencitraan antara bumi dan telur menuai sebuah hikmah yang luar biasa untuk kita ketahui. Ada kemiripan antara bumi dan telur. Namun itu bukan seberapa, yang mengagetkan adalah perbedaan antara kedua itu. Perbedaan itu bahkan menyangkut tentang kiamat besar. Sangat menarik! ternyata ada rahasia dibalik penciptaan bumi dan telur.

Tak disangkal bahwa ayat-ayat Tuhan bukan hanya dalam bentuk teks book, namun lebih dari itu. Ayat-ayat berupa alam juga tak kalah menarik untuk dikupas. inilah waktunya ‘membaca’ ayat-ayat Tuhan yang tertuang dalam alam ini. Maka, tak ada salahnya untuk membaca blog ini.

Bumiku Sayang

Kompetisi WEB Kompas MuDA & Pertamina

Bumiku sayang…
Dulu engkau begitu rimbun, hijau membentang
Sedap mata memandang
Segarnya ku hirup meresap hingga pembuluh nadiku
Membawa jernih akal pikirku

Bumiku sayang…
Jiwa dan ragamu engkau relakan untukku
Tapi, ku tak tahu diri
Tanpa batas menggerogoti tubuhmu
Hingga kering kerontang parasmu

Bumiku sayang…
Kau tak lagi berkembang
Banyak tangan merenggut keperawananmu
Sepah dibuang tinggal menunggu petang
Bencana alam kian menggelimang, tanda kemarahanmu

Bumiku sayang…
Jangan ada lagi sekat di antara kita
Mari rajut jalinan asmara yang kian tenggelam
Di usia petangmu, ku ikhtiarkan menjaga
Hingga akhir waktu

Oleh Setyo Pamuji

Mewujudkan Kota Idaman

Kompetisi WEB Kompas MuDA & Pertamina. Kota identik dengan lingkungan panas, pengap dan polusi. Apalagi di tambah dengan kemacaten, rasanya sesak dan memacu pitam untuk naik saja. Belum lagi kebisingan kendaraan, kian menambah rasa jengkel di hati. Ini kah yang dinamakan kemajuan zaman?

Lingkungan panas, pengap dan polusi merupakan dampak dari pemanasan global. Manusia belum begitu sadar akan pentingnya bumi bagi diri sendiri. Ini terlihat dari banyaknya gedung-gedung, bahkan ‘mall-mall’ yang berserakan di sepanjang kota, tanpa diimbangi penghijauan yang memadai. Tanah untuk bagian tanaman sebagai jantung kota di nomor dua kan. Selain itu, ketidakpedulian lingkungan dapat dilihat juga dari banyaknya sampah di kota-kota, berjuta sampah yang menggenang dan menimbulkan bau busuk.

Memang sulit rasanya jika pembenahan lingkungan ini dilakukan oleh individu. Akan tetapi, sulit itu masih ada jalan. Sulit masih ada kesempatan dalam artian peluang itu masih ada. Jika pemerintah dengan jajaran rakyat, terlebih perusahaan-perusahaan besar mau untuk peduli lingkungan, pasti semua bisa!

Maka itu, apresiasi setinggi-tingginya buat Kompas MuDA yang berusaha membangunkan kesadaran terhadap lingkungan yang disinyalir masih tertidur nyenyak saat ini. Ini adalah sebuah gebrakan yang patut jadi teladan. Bukan terlalu fanatik, memang ini harus menjadi momentum kebangkitan penyelamat lingkungan. Suatu keadaaan untuk merangsang seluruh manusia guna bersahabat dengan bumi. Karena sejatinya. ‘MENJAGA BUMI ADALAH MENJAGA DIRI”

Gerakan Seribu Tanaman untuk Kota

Kompetisi WEB Kompas MuDA & Pertamina. Panas dan pengap, apalagi ditambah dengan kemacetan kian menjadikan kota bak oven raksasa. Udara yang dihirup pun telah terkontaminasi dengan polusi udara, baik berupa asap kendaraan atau asap-asap dari cerobong pabrik-pabrik. Keadaan ini kian hari semakin  parah saja.

Maka itu, alangkah baiknya di kota-kota diadakan gerakan seribu tanaman. Gerakan itu sebagai upaya untuk memperbaiki keadaan tak ramah lingkungan di kota-kota. Hal itu dapat dilakukan dengan kesadaran untuk menanam pohon di sekitar pekarangan rumah. Atau bahkan, menanami atap gedung-gedung yang tak dimanfaatkan sebagai media menghijaukan dan menyegarkan kondisi di perkotaan

Menyatu dengan Alam Pacet

‘Tak kenal maka tak sayang’, itu pepatah lama yang masih sering diperdengarkan dan masih relevan hingga sekarang. Pun demikian dengan alam (bumi), untuk sayang kepada bumi, maka kita harus mengenalnya.

Kompetisi WEB Kompas MuDA & Pertamina. Salah satu untuk mengenal alam adalah dengan turun aksi ke lapangan. Ini merupakan bentuk upaya untuk tahu lebih jauh bagaimana keadaan alam di sekitar kita. Sekaligus, kegiatan mengenal alam secara langsung ini akan menggoreskan pengajaran yang mendalam bagi kita. Logikanya, kita tak akan pernah bisa menceritakan hakikat rasa sate, jika kita sendiri belum pernah makan sate.

Aksi kali ini kami pergi ke Pacet. Pacet merupakan salah satu tempat wisata di Malang. Panorama alam yang asri membuat tempat ini selalu melekat di hati pengunjung. Bukan hanya itu, keramahan warga sekitar juga mendukung semarak keindahan alam di salah satu daerah wisata Jawa Timur ini.

Maka, Saya dan teman-teman tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kami mengadakan study tour ke tempat itu. Banyak yang kami dapatkan dari tempat itu, terlebih berkenaan dengan kelestarian lingkungan. Kami menjadi semangat untuk menjadikan bumi ini hijau. Dengan begitu, manfaatnya akan kembali pada manusia sendiri. Bahkan, kami tak segan-segan untuk bersenda-gurau dengan jernihnya air di tempat itu. Hingga, kami juga belajar bagaimana cara petani dalam mengelola tanahnya supaya tak merusak lingkungan dan tetap subur.

Kegiatan yang salah satu tujuannya untuk mengenal alam ini memberikan refresh pada pikiran kami. Setelah berjibaku dengan rutinitas kota yang penuh dengan kebisingan kendaraan dan monoton dengan gedung-gedung pencakar langit, maka kami serasa lahir kembali. Katakanlah, suasana di kota-kota besar bisa fresh seperti ini, pasti melakukan aktivitas apapun jadi lebih enak.

Bercengkrama dengan Keaslian Alam Ranu Pane

Kompetisi WEB Kompas MuDA & Pertamina. Ranu Pane, salah satu nama desa di kabupaten Lumajang merupakan salah satu lingkungan yang dapat dikatakan sebagai bentuk keaslian alam. Saat masuk di kawasan ini kami disuguhi dengan panorama keaslian alam, bahkan belum terjamah sedikit pun oleh manusia. Daerah hutan sekitar jalan menuju desa Ranu Pane tersebut masih berupa hutan-hutan lebat, bahkan semak belukar dekat jalan pun masih meranggas bebas. Tak jarang, kepala kami terkena oleh semak-semak yang menjulurkan rantingnya kepada kami.

Canda dan tawa mengiringi langkah kami dalam mengarungi belantara hutan yang menuju di desa Ranu Pane itu. Suasana akrab sangat terasa saat itu. Ini mungkin juga efek dari riangnya alam disekitar kami itu. Sehingga, lima jam perjalanan yang kami lalui begitu terasa singkat.

Sesampainya di desa tersebut, kami turun dan merasakan hembusan angin segar. Danau di sekitar desa itu menambah romansa asri desa di Kabupaten Lumajang itu. Hemmm… segarnya alam ini. Sungguh bersahabat alam, seakan menyambut kedatangan kami.

Terbesit di pikiranku, ternyata alam, terutama pohon memiliki hubungan dekat dengan manusia. Tepatnya, hubungan saling memberi (simbisosis mutualisme). Manusia butuh oksigen (O2) untuk bernafas, pohon membutuhkan karbondioksida (CO2) untuk memproduksi makanan sendiri (fotosintesis). Manusia menghirup O2 dan mengeluarkan CO2. Sedangkan, pohon membutuhkan CO2 untuk fotosintesis dan mengeluarkan O2. Sehingga, keduanya saling melengkapi. Maka, melestarikan bumi (pohon) sama artinya dengan menjaga diri.

Menanam Pohon di Hati

Kompetisi WEB Kompas MuDA & Pertamina. Menarik membahas ungkapan menanam pohon di hati. Apalagi, menanam merupakan kegiatan positif dan produktif. Seseorang hanya akan dapat memetik buahnya sendiri, jika ia mau menanam. Namun, bagaimana cara menanam pohon di hati?

Ada fakta menggelitik terkait sulitnya menghijaukan bumi ini. Jika sebagian orang sadar untuk menanam pohon, namun sebagian lagi masih merusak pohon, seperti menebang pohon sembarangan, maka bumi yang rimbun sulit terwujud. Pohon memerlukan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh, sedangkan menebang pohon hanya butuh waktu beberapa menit. Ini mempertegas ada faktor lain yang tak kalah penting dari penghijaun dalam rangka menyuburkan bumi.

Menggugah kesadaran akan sadar bumi sedari dini adalah investasi tak ternilai harganya bagi kelestarian bumi. Ini membuat Penulis lebih menajamkan pada sikap moral terhadap lingkungan guna keselamatan bumi. Bagaimana cara membuat eling (ingat) bahwa bumi adalah saudara dekat?

Dalam web ini akan berusaha membuat sebuah goresan pena yang dapat menumbuhkan kepedulian pada bumi. Judul artikel ini “menanam pohon di hati” sebenarnya adalah sebuah ungkapan yang memiliki arti mendalam.

Makna di balik judul tersebut memberikan beberapa pengertian metaforik. ‘Menanam’ di sini sebanding dengan menumbuhkan jiwa sadar atau peduli terhadap bumi. Sedangkan, pemilihan kata ‘pohon’ lebih bersifat perwakilan. Pohon dianggap sebagai salah satu unsur penting keberlangsungan kehidupan. Tak dapat dibayangkan, jika tak ada pohon yang mampu merubah CO2 (karbondioksida) menjadi O2 (Oksigen), maka kehidupan akan minim, bahkan tiada. Maka, web ini bermaksud untuk menanam pohon itu dalam hati. Maka, lanjutkan peselancaranmu dalam http://www.sodarabumi.wordpress.com berikutnya.